Menjaga Keberagaman & Pluralisme Agama Dengan Dialog Antar Umat Beragama

Tugas Makalah
Menjaga Keberagaman & Pluralisme Agama Dengan Dialog Antar Umat Beragama
CB : Interpersonal Development









Genap 2013/2014




Kata Pengantar



Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa penulis dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah yang berjudul “Menjaga Keberagaman & Pluralisme Agama Dengan Dialog Antar Umat Beragama” dengan lancar Makalah ini penulis susun dalam rangka untuk melengkapi tugas mandiri akhir dari mata kuliah CB: Interpersonal Development.
Dalam menyelesaikan makalah ini, penulis mengalami berbagai rintangan dan hambatan. Dengan bantuan dari berbagai pihak yang mendukung maka, rintangan dan hambatan tersebut dapat diselesaikan dengan baik. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Hermawan Winditya karena telah memberi tugas dan selaku guru pembimbing dalam membantu menyelesaikan makalah ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada pihak yang membantu menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah yang telah disusun memiliki berbagai kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca. Semua kritik dan saran akan menjadi acuan bagi penulis untuk menyusun makalah yang lebih baik di masa mendatang.
Akhir kata penulis berharap agar makalah ini dapat bermanfaat bagi semua kalangan. Semoga makalah ini dapat memberi wawasan yang lebih untuk kehidupan dalam beragama.


Jakarta,4  Juni 2014

Penulis


Daftar Isi







Pendahuluan


            Indonesia merupakan sebuah negara pluralisme. Sehingga Indonesia terdiri dari beranek ragam suku, budaya, etnis, kepecayaan dan agama yang berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainya. Di Indonesia terdapat 6 agama yang dianut oleh masyarakat Indonesia yaitu Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, Konghucu. Enam agama ini lah yang membuat Indonesia menjadi negara pluralisme. Karena semua masyarakat Indonesia berhak dan dilindungi oleh hukum yang berlaku di Indonesia untuk memilih agamanya sendiri tanpa paksaaan dari masyarakat ataupun pemerintah sendiri
            Tetapi dalam praktiknya dengan adanya Pluralisme, sudah pasti setiap individu mempunyai keinginan, strutur sosial dan karakter yang berbeda-beda antara satu individu dengan individu lainya. Dan hal tersebut dapat menimbulkan konflik antar individu yang memiliki perbedaan agama, yang akhirnya akan berakhir pada perpecahan bila tidak ditindak lanjuti. Dewasa ini sering terjadi konflik antar umat beragama di Indonesia yang menelan banyak korban jiwa. Seperti kasus di Poso terjadinya konflik antara umat islam dan kristen di poso. Hal ini menjadi catatan hitam sejarah Indonesia mengenai konflik umat beragama yang mengacam pluralisme di Indonesia. Karena konflik antar umat beragama yang sempat menimbulkan perpecahan antar umat beragama. Untuk itu kita sebagai masyarakat indonesia perlu menjaga pluralisme agama di Indonesia. Apalagi bila kita melihat semboyan Indonesia yaitu bhineka tunggal ika yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu. Yang mengingatkan kita betapa pentingnya untuk kita sebagai masyarakat indonesia untuk menjaga pluralisme agama di indonesia di Indonesia. Walaupun kita berbeda agama tetapi kita harus tau bahwa kita tetap satu Indonesia
            Dan salah satu cara untuk menjaga pluralisme di Indonesia adalah dengan mengetahui apa perbedaan kita. Apa perbedaan agama kita dengan agama lainya. Tetapi perbedaaan itu tidak kita gunakan sebagai alat untuk menyerang agama lain tetapi kita gunakan untuk menambah wawasan kita dalam menjalin hubungan toleransi. Salah satu cara untuk mengetahui perbedaan tersebut adalah dengan mengadakan dialog antar umat beragama.
            Tujuan dari makalah ini adalah agar kita lebih mengenal mengenai pluralisme. Dan agar kita sebagai masyarakat Indonesia dapat menerapkan prinsip pluralisme terutama di bidang agama. Dan kita dapat menggunakan dialog antar umat beragama sebagai salah satu dari sekian banyak solusi yang ada untuk menjaga pluralisme agama.



BAB 1
Pluralisme

2.1Pengertian Pluralisme


Dalam the oxford english dictionary disebutkan bahwa pluralisme ini dipahami sebagai: (1) suatu teori yang menentang kekuasaan negara monolitis; dan sebaliknya, mendukung desentralisasi dan otonomi untuk organisasi-oganisasi utama yang mewakili keterliabatan individu dalam masyarakat. Juga, suatau keyakinan bahwa kekuasaan itu harus dibagi bersama-sama di antara sejumlah partai politik. (2) Keberadaan atau toleransi keragaman etnik atau kelompok-kelompok kultural dalam suatu masyarakat atau negara, serta keragamaan kepercayaan atau sikan dalam suatu badan, kelembagaan dan sebagainya. Definisi yang pertama mengandung pengertian pluralisme sosial atau primodial
Sementara dalam pengertian bahasa Indonesia Pluralisme berasal dari bahasa Inggris "pluralism", terdiri dari dua kata plural artinya beragam dan isme artinya paham yang berarti beragam pemahaman, atau bermacam-macam paham. Sehingga pluralisme agama berarti memiliki berbagai macam paham agama. Sehingga Indonesia sebagai negara pluralisme berarti Indonesia memiliki beragam agama dan kepercayaan.

2. 2 Masalah-Masalah Pluralisme Agama di Indonesia

Menurut Drs. D. Hendropuspito, O. C. Di dalam bukunya Sosiologi Agama, konflik sosial yang yang bersumber dari agama yang terjadi di indonesia  berasal dari  empat hal pokok yaitu :
1.      Perbedaan doktrin dan sikap mental
Secara sadar atau tidak sadar, setiap pihak mempunyai bayangan mengenai ajaran agaman masing-masing,  terkadang ada yang melakukan perbandingan ajaran agama lainya, memberikan penilaian atas agama sendiri dan agama lawannya. Dalam skala penilaian yang dibuat  secara subjektif nilai tertinggi akan selalu diberikan kepada agamanya sendiri dan agama sendiri selalu dijadikan kelompok patokan, sedangkan lawan dinilai menurut patokan itu.
                           
2.      Perbedaan suku dan ras pemeluk agama
Bahwa perbedaan suku dan ras berkat adanya agama bukan menjadi Penghalang untuk menciptkana hidup persaudaraan yang rukun; hal itu sudah Oleh kenyataan yang menggebirakan. Dan hal ini tidak perlu dibicarakan lagi. Yang menjadi masalah disini apakah perbedaan suku dan ras ditambah dengan perbedaan agama menjadi penyebab lebih kuat untuk menimbulkan perpecahaan antar umat manusia? Hal ini justru akan menambah lebar jurang yang memisahkan perbedaan agama tersebut sehingga menimbulkan konflik sosial yang menyebabkan terjadinya perpecahan kelompok yang merugikan ketentraman dan keaman kelompok

3.      Perbedaan tingkat kebudayaan
Tidak bisa dipungkiri bahwa agama merupakan bagian dari sebuah kebudayaan. Agama menjadi bagian terpenting dalam pembudayaan manusia khusunya, dan alam semesta pada umumnya. Dengan kata lain agama adalah upaya menciptakan alam semesta dengan cara yang suci. Dengan kerangka pemikiran bahwa agama memaikan peran dominan dalam menciptakan budaya masyarakat dan melestarikan alam semesta maka munculnya ketegangan yang disebakan karena perbedaan tingkat kebudayaan tidak bisa dilepaskan dari peran agama dalam menyediakan nilai-nilai yang disatu sisi mendorong pertumbuhan pemikiran bagi perkembaangan budaya dan disisi lain menghabat perkembangan budaya tersebut

4.      Masalah mayoritas dan minoritas golongan agama
Secara umum masalah yang sering terjadi di masyarakat pluralis adalah mayoritas dan minoritas yang sering terjadi adalah mayoritas memaksakan kehendak mereka pada minoritas dan minoritas mau tidak mau harus menerima kehendak dari mayoritas. Hal ini akan menimbulkan perasaan dendam dan menimbulkan konflik perpecahaan.



BAB 2
Dialog Antar umat Beragama

2.1 Pengertian Dialog Antar umat Beragama

Kata dialog berasal dari kata Yunani “dia-logos”, artinya bicara antara dua pihak atau “dwiwicara”. Lawanya adalah “monolog” yang berarti “bicara sendiri”. Arti sesunggunnya definisi dari dialog ialah percakapan antara dua orang atau lebih dalam mana diakan pertukaraan nilai yang dimiliki masing-masing pihak. Lebih lanjut dialog berarti pula pergaulan  antara pribadi-pribadi yang saling memberika diri dan berusaha menegal pihak lain sebagai mana adannya. Dari studi psikologi disimpulkan bahwa manusia yang normal membutuhkan dialog, membuka diri kepada orang lain. Prinsip psikologis itu memang harus mendasari dialog, sejatinya dialog harus dilandaskan pada keterbukaan terhadap pihak lain dan kerelaan untuk berbicara dan memberika tanggapan kepada pihak lain bahwa kedua belah pihak memberika informasi yang benar. Tujuan dialog sendiri adalah sesuatu yang positif seperti memberi informasi, nilai-nilai yang dimiliki, lalu membantu pihak lain yang dapat dipertanggung jawabkan. Dialog antar umat beragama merupakan salah satu cara yang tepat bilan dijalankan dengan baik untuk  menjaga pluralisme di Indonesia.
Di dalam dialog antar umat beragama terdapat 2 maca dialog yaitu dialog horizontal dan dialog vertikal. Dialog horizontal  adalah interaksi antar manusia yang dilandasi dialog untuk mencapai saling pengertian, pengakuan akan eksistensi manusia dan pengakuan akan sifat dasar manusia, dan pengakuan akan siftar dasar manusia yang indetermitis dan independen sedangkan dialog vertikal adalah meperdalam pengertian dan penghayatan akan fungsi dan makna keagamaan. Dan dialog merupakan solusi yang cocok untuk menghadapi sebuah pluralisme dan mempertahankan sebruah pluralisme.

2.2 Pedoman dan Kode Etik Dialog Antar umat Beragama

Pendoman yang harus diperhatikan ketika melaksanakan dialog antar umat beragama adalah:
1.      Dasar pijak yang sama. Semua pemeluk agama memiliki kepercayaan yang sama akan satu Tuhan
2.      Tujuan dialogi. Pertama-tama tujuan yang hendak dicapai musyawarah pemeluk-pemeluk agama bukanlah mengadakan peleburan atau asimilasi dari banyak agama menjadi satu agama. Dialogi juga tidak dimaksud untuk mendapat pengakuan dari pihak lain akan supremasi agamanya sendiri sebagai agama yang paling benar.
3.      Materi yang diberikan bersifat dialogi. Bahan-bahan musyawarah yang berulang kali muncul dalam acara pembicaraan meliputi hal-hal baik yang sifatnya konseptual teoretis maupun yang praktis

Kode etik dalam pelaksanaan dialog antar umat beragama untuk berdialog antar umat beragama:
1.      Memberikan kesaksian secara jujur dan saling menghormati kepada semua pihak agak tidak memberikan persepsi bahwa keyakinannya masing-masing ditekan ataupun dihapus. Justru sebaliknya, supaya setiap pihak membawa kesaksian yang terus terang tentang kepercayaan di hadapan Tuhan dan sesamanya
2.      Prinsip kebebasan beragama atau religious freedom. Prinsip kebebasan tersebut meliputi prinsip kebebasan perorangan dan kebebasan sosial atau individual freedom and social freedom
3.      Prinsip acceptance, yaitu mau menerima orang lain seperti adanya. Dengan kata lain, tidak menurut proyeksi yang dibuat sendiri.
4.      Terus berpikir positif dan percaya. Orang yang bisa berpikir secara positif itu perlu dijadikan suatu sikap yang terus menerus dikembangkan. Orang yang biasa berpikir negatif terhadap orang lain tentu akan mengalami kesulitan dalam bergaul dengan orang lain, apalagi jika agama lain.

2.3 Kendala dan Manfaat Dialog Antar umat Beragama

Manfaat dialog antar umat beragama:
1.      Terkikisnya kesalah pahaman yang bersumber dari adanya perbedaan bahasa dari masing-masing agama
2.      Dialog dimaksudkan guna mencari respons yang sama terhadap semua tantangan yang dihadapi oleh agaman. Agakanya perlu ditegakan bahwa tantangan yang dihadapai oleh salah satu agama pada dasarnya tantanganyang dihadapi oleh semua agama. Dan tantangan yang dihadapi oleh agama, juga tantangan yang dihadapi oleh manusia sebagai manusia
Kendala praktis dalam dialog antar umat beragama
1.      Elitis
Dialog antarumat beragama yang selama ini terjadi adalah dialog secara elitis dan hanya kaum terpelajar lah yang mengetahui hasil dari dialog tersebut sedangkan orang-orang awam tidak mengetahui tetang dialog tersebut. Padahal kita dapat lihat bahwa kaum awam lebih banyak dibandingkan kaum terpelajar
2.      Tak militan
Aktivis di dalam agama tidak begitu “agresif” memperjuangkan isu ini tidak seperti aktivis HAM dan lain sebagainya sehingga membuat dialog antar umar beragama hanya berjalan ditempat. Dan selain itu faktor agama sering kali dipahami sebagai faktor semu.
3.      Jalur eceran
Kenyataan bahwa sosialisasi ajaran agama di tingkat akr rumput lebih banyak dikuasai oleh para juru dakwah yang kurang paham atau menyadari pentingnya isu dialog antar umat agama. Jalur tingkat distribusi ajaran agama di tingkat “eceran” lebih banyak dikuasai oleh jaringan dakwah dan misi yangmempunyai pandangan agama yang konservatif. Sementara kaum terdidik yang sering kali terlibat dalam wancana dialog antarama tidak mempunyai basis soial yang cukup untuk membangun semacam jaringan distribusi ajaran agama alternatif yang menandingi jalur “eceran”
4.      Infrastruktur
Kuranganya sarana-sarana kelembagaan yang tidak menunjang dialog. Ini adalah kelemahan serius yang tidak bisa dibiarkan terus berlajut karena dialog lebih banyak dibangun melalui seremoni dan tindakan-tindakan intelektual yang bersifat diskursif, maka dialog itu sulit menjagkau masyarakat luas jika tidak terdapat infrastruktur
5.      Prasangka
Sejumlah prasangka tertentu yang berkembang diantara sejumlah aktivis yang selama ini bekerja untuk dialog antar umatberagama
6.      Ketidak adilan
Soal kesejangan sosial dan ketidak adilan harus menjadi keprihatinan semua kelompok dialog tidak dapat efketi bila soal ini tidak diselesaikan secara praktis. Karena masing-masing kelompok akan curiga bahwa dialog tersebut ditunggangi oleh kepentingan lainya seperti politik dan ekonomik
7.      Dialog internal
Secara sosiologi umat beagama tidaklah monolit tetapi beragam dan mengalami fragmentasil internal yang cukup tajam. Artinya pluralisme tidak saja terjadi dalam kontek antaragama tetapi juga dalam agama yagn sama juga terjadi perbedaan perbedaan yang tajam.
                       
                                                     



BAB 3
Tatangan & Manfaat Untuk menjaga pluralisme melalui Dialog antar umatberagama

3.1 Tantangan Untuk Menerima pluralisme agama

Meskipun keanekaragaman agama bersifat given, sebagai sesuatu yang terberi dari orang tua kita sama seperti nama yang kita miliki diberikan oleh orang tua sejak kita lahir tetapi keanekaragaman tidak mendapatkan ruang  yang kondusif bagi perkembangan dan pertubuhanya. Hal ini disebabkan oleh berbagai macam faktor sebagaimana yang dikemukakan oleh janazs, at.all(p.93) berikut ini;
1.      Prasangka
Prasangka ini muncul karena adanya pransangka burur kepada orang lain karena perbedaan sering menimbulkan pransangka yang tidak enak kepada orang yang berbeda terutama bila perbedaan itu antara mayoritas dan minoritas. Pihak mayoritas akan selalu berprasangka buruk kepada minoritas, begitu juga sebaliknya minoritas akan selalu berprasangka yang buruk kepada mayoritas hal ini terjadi karena antara minoritas dan mayoritas. Sehingga prasangka buruk ini sering terjadi antara mayoritas dan minoritas. Prasangka buruk ini sangat tidak relevan bila tidak dibuktikan dengan fakta karena akan semakin memperparah prasangka yang ada. Dan hal ini menjadi sesuatu yang negatif yang mengancam pluralisme yang ada di Indonesia. Prasangka yang sering terjadi di indonesia adalah prasangka ketika kita mau bergaul dengan orang lain yang menyebabkan kita dapat mendiskriminasi orang lain yang memiliki perbedaan. Prasangka inilah yang membuat dialog antar umat beragama tidak dapat berkembang sebagaimana mustinya karena prasangka-prasangka yang ada di dalam aktivis agama menyebabkan sulit tercapainya dialog antar umat beragama

2.      Etnosentrisme
Etnosentrime adalah suatu kecenderungan untuk menghormati dan menganggap bahwa kelompok sendiri, budaya atau bangsa sendiri sebagai sesuatu yang lebih tinggi dari pada kelompok atau budaya yang lainya. Hal ini sering menimbulkan konflik sosial karena perbedaan doktrin dan sifat mental. Sifat mental yang fanatik akan membuat menyulitkan untuk tercapainya pluralisme karena orang yang fanatik dalam konotasi negatif memandang doktrin yang diberikan oleh agama secara tersurat bukan tersirat di dalamnya. Karena dalam memahami agama kita harus memahaminya dari banyak sisi dan belajar dari banyak orang yang lebih senior dari kita dan lebih mengerti mengenai persoalan agama dari kita. Dan itupun tidak hanya dari satu orang tetapi dari banyak orang sehingga kita dapat terhindar dari etnosentrisme. Karena Secara sadar atau tidak sadar, setiap pihak mempunyai bayangan mengenai ajaran agaman masing-masing yang berasal dari doktrin-doktrin agamanya masing-masing,  terkadang ada yang melakukan perbandingan ajaran agama lainya, memberikan penilaian atas agama sendiri dan agama lawannya. Dalam skala penilaian yang dibuat  secara subjektif nilai tertinggi akan selalu diberikan kepada agamanya sendiri dan agama sendiri selalu dijadikan kelompok patokan, sedangkan lawan dinilai menurut patokan itu.

3.      Stereotypes
Stereotypes adalah perasaan-perasaaan cinta terhadap kelompok sendiri dan benci atau takut terhadap kelompok-kelompok lain. Prilaku stereotypes ini muncul karena adanya perbedaan tingkat budaya antara satu agama dengan agaman lain sehingga meninmbul kan stereotypes negatif. Kita dapat ambil contoh agama kristen dan agama islam. Dimana agama kristen berasal dari eropa yang merupakan pendatang baru di Indonesia sehingga bangunan-bangunan gereja kristen selalu bernuansa modern. Sedangkan bangunan-banguna mesjid agama islam yang sudah lama karena islam merupakan pendatang yang sudah lama sudah terkesan tidak modern lagi. Oleh sebab itu hal ini menimbulkan stereotypes negatif antar agama ditambah lagi ajaran agama kristen disebarkan oleh bangsa eropa yang notabene seorang yang dianggap penjajah oleh bangsa indonesia yang notabene memiliki agama mayoritas islam. Hal ini akan memperparah stereotype yang berkembang di antara masyarakat yang menggambarkan terkesan bahwa kristen menjajah di Indonesia. Hal ini menurut saya tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi di negara lain juga sama. Karena beberapa oknum saudara kita beragama islam yang melakukan pemboman, menimbulkan stereotype bahwa agama islam teroris. Tetapi yang menjadi masalah yang kita lihat tidak hanya Stereotype yang dibuat oleh beberapa kelompok individu dari agama tersebut tapi kita harus melihat bahwa semua agama akan mengajarkan hal-hal yang baik. Karena walaupun berbeda jalan tetapi tetap satu Tuhan.

3.2 Manfaat Untuk Menerima Pluralisme Agama


Tetapi dengan adanya perbedaan agama tersebut kita dapat secara arif mengelolah perbedaan-perbedaan agama tersebut menjadi hal yang positif dengan cara tetap memanfaatkan dialog antar umat beragaman yaitu dengan
1.      Prinsip Filosofis
Setiap individu atau kelomok pada dasarnya tidak hanya unik tetapi juga penuh dengan  kekurangan. Dengan adanya dialog antar umat beragama kita dapat saling melengkapi satu sama lainya dalam perbedaan-perbedaan tersebut agar nantinya wawasan yang kita miliki akan semaki berkembang ke depan.

2.      Secara organisatoris
Dengan adanya dialog antar umat beragama secara organisatoris. Perbedaan yang dibahsa dalam dialog antar umat bergama menjadi sebuah aset yang dapat dimanfaatkan sebagai modal untuk mencapai tujuan organisasi, karena berbagai potensi yang lahir dari perbedaan yang ada, yang dimiliki setiap anggota organisasi. Seperti Partai-partai di Indonesia yang mampu untuk menyerap aspirasi masyarakat dari setiap golongan di Indonesia.
3.      Mengatasi tantangan komukasi lintas budaya
Namun untuk mencapai kedua tujuan di atas tetap dengan bantuk dialog antar umat beragama diharapkan dapat mengatasi segala tantangan relasi lintas budaya dan keberagaman. Karena dialog merupakan salah satu cara yang me





Refleksi Kritis


Menurut saya makalah yang saya buat sesuai dengan buku  CB: Interpersonal Development pada bab 5 mengenai “Relasi Lintas Budaya dan Keberagaman” karena tanpa kita sadari bahwa agama dapat menjadi sumber moral dan etika. Dalam konteks ini agama disebut sebagai kebudayaan. Tanpa kita sadari agama tidak bisa terlepas dari kebudayaan. Atau agama tersebut melekat dengan sebuah kebudayaan. Sehingga terdapat hubungan erat antara agama dengan kebudayaan yang ada, karena agama ada dalam setiap perkebangan kebudayaan masyarakat itu sendiri dan juga budaya lah yang mempengaruhi perkembangan di tempat agama tersebut berkembang, Seperti di Indonesia terdapat Masjid Nurul Hilal Dato Tiro yang memiliki kubah menyerupai rumah adat Jawa dan misa umat katolik yang menggunakan bahasa Jawa untuk gereja di daerah Jawa. Tetapi dewasa ini banyak agama-agama yang dipelintir, banyak oknum-oknum yang menggunakan dalih agama untuk mengelak sesuatu dan melakukan perbuatan yang merugikan orang lain maupun merugikan diri sendiri. Hal ini terjadi karena kurangnya pemahaman agama pada orang tersebut. Kurangnya pemahaman agama tersebut mengakibatkan oknum-oknum tersebut hanya mempelajari agama dari kulitnya saja, tidak mempelajari secara mendalam. Karena dalam mempelajari agama kita harus mempelajari agama tidak hanya secara tersurat tetapi juga dengan tersirat. Sehingga kita tidak dibutakan dengan ajaran yang hanya tersurat di dalam agama.
Dan Indonesia merupakan negara yang memiliki paham pluralisme karena indonesia memiliki semboyan bhineka tunggal ika  yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu atau dalam bahasa ingris dapat disebut dengan unity through diversity. Terdapat 6 agama di Indonesia yaitu islam, hindu, budha, katholik, kristen, konghucu sehingga walaupun kita berbeda-beda agama tetapi kita tetap satu yaitu sebagai rakyat Indonesia. Dan agama merupakan salah satu faktor yang mendominasi di Indonesia, karena Indoensia merupakan negara beragama. Tetapi mirisnya agama juga yang menjadi salah satu alasan yang dapat menyebabkan perpecahan di Indonesia, karena tingginya faktor kerasan yang terjadi karena masalah agama di Indonesia. Tetapi pada kenyataan masih banyak terjadinya kasus-kasus diskriminasi antar masyarakat Indonesia baik itu yang mayoritas dan minoritas atau juga antar golongan yang ada di Indonesia. Terjadinya diskriminasi agama ini terjadi karena kurangnya kesadaran masyrakat kita mengenai pluralisme atau perbedaan-perbedaan yang ada di sekeliling kita. Padahal bila kita dapat memanfaatkan pluralisme tersebut kita dapat mendapatkan banyak manfaat, contoh dari beberapa manfaat pluralisme terutama di bidang agama  adalah:
1.      Menambah networking
Dengan pluralisme ini maka kita akan semakin memperbanyak networking yang kita miliki. Kita dapat bergaul dengan siapa saja yang kita jumpai tanpa harus memandang latar belakang terutama latar belakang agama orang tersebut. Sehingga bila kita memegang rasa pluralisme ini, maka kita tidak akan memandang orang tersebut berbeda dari kita atau lebih tinggi atau bahkan lebih rendah dari kita tetapi kita memandang mereka sebagai sesama manusia yang sama seperti diri kita sendiri. Sehingga tidak ada perasaan iri dan dengki serta minder ketika kita bergaul dengan siapapun. Sehingga hubungan dan relasi kita dengan sesama kita yang berbeda dapat terjalin tanpa adanya perpecahan.
2.      Meningkatkan Rasa Solidaritas
Ada pepatah yang mengatakan bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Bagaimana kita mau bersatu kalo kita saja masih memiliki rasa diskriminasi terhadap orang lain yang berbeda dengan kita. Sehingga relasi kita dengan orang lain masih sulit terjalin. Karena anggapan-anggapan orang mengenai diskriminasi. Sehingga dengan adanya pluralisme ini maka kita akan meningkatkan rasa solidaritas kita, jadi tanpa harus memperhatikan latar belakang agama orang tersebut kita dapat dengan tulus dan ikhlas membantu orang tersebut.
3.      Menambah pengetahuan kita
Manfaat berikutnya adalah penambah pengetahuan kita. Dengan kita belajar mengetahui agama orang lain bukan dengan serta merta kita mengikuti agama orang lain. Tetapi kita memperluas lingkup pengetahuan kita. Dengan kita mengetahui mengenai kebudayaan dan agama orang lain kita dapat menyesuaikan diri dengan orang lain yang berbeda dengan kita. Kita dapat mengetahui hal-hal yang harus kita hormati dengan orang lain, seperti bila kita mengajak pergi makan dengan orang islam, maka kita harus mengajak makan di restoran yang halal. Hal ini perlu kita ketahui agar kita dapat mengetahui apa yang perlu kita hormati dari pluralisme tersebut, sehingga tidak menyinggung orang lain dan dapat bersikap yang tepat bila berhadapan denga orang lain yang sudah pasti berbeda dari kita. Karena dari menyinggung makan kita dapat merusak persatuan dan kesatuan, karena persatuan dan kesatuan harus dimulai dari dalam diri kita sendiri dengan bertindak yang baik terhadap sesama. Dan juga kita belajar mengenai apa yang kurang dari kita.

            Dan dialog agama adalah salah satu cara yang menurut penulis merupakan salah satu langkah yang tepat dalam menjalin relasi lintas budaya dan keberagaman. Karena dengan adanya dialog antar umat beragama makan kita akan semakin meningkatkan relasi kita dengan sesama kita yang berbeda agama ataupun kebudayaan. Karena seperti yang sudah dibilang bahwa kita tidak dapat memisahkan kedua hal tersebut. Sehingga cara yang dapat digunakan untuk menjaga relasi lintas budaya dan keberagaman adalah dengan mengadakan dialog-dialog antar umat beragama. Dialog-dialog tersebut tentunya harus sesuai dengan etika dialog yang ada. Sehingga dialog-dialog tersebut tidak mendeskriditkan orang atau golongan tertentu yang ada di dalam dialog tersebut. Dan dialog tersebut dapat berjalan dengan baik dan semestinya sehingga menghasilkan suatu dialog yang baik dan dapat digunakan kelak dikemudian hari untuk tetap melindungi keberagaman atau pluralisme yang ada. Tapi sayangnya dialog antar umat beragama ini kurang efektif digunakan oleh masyarakat sehingga dialog antar umat beragama ini hanya menjadi sebuah formalitas belaka yang ada di masyarakat. Dan dialog ini tidak dapat menghasilkan sesuatu yang efektif dan positif untuk melindungi keberagamaan atau pluralisme yang ada di Indonesia ini. Mungkin bila kita sebagai orang biasa akan sulit melakukan dialog antar umat beragama yang berskala besar, tetapi kita dapat mencoba untuk melakukan dialog antar umat beragama yang sangat mudah kita lakukan sehari-hari. Yaitu dengan bergaul dengan siapa saja tanpa membedakan agama yang dimilikinya. Dan dari situ kita dapat melakukan dialog-dialog dengan orang tersebut sehingga kita dapat mengetahui mengenai orang tersebut dan agama yang dianut oleh orang tersebut. Dan hal ini menjadi sesuatu yang paling mudah untuk saat ini dilakukan, sehingga relasi lintas budaya dan keberagaman dapat kita laksanakan.
            Dan walaupun dengan kondisi sekarang ini kita dapat melihat bahwa kondisi relasi antar agama di Indonesia, tidak hanya di Indonesia bahka di negara lain pun. Masi memiliki sebuah raport merah yang harus diperbaiki. Tetapi kita harus sadar bahwa kondisi seperti ini tidak dapat didiamkan begitu saja, karena bila didiamkan maka akan menimbulkan sebuah bom waktu yang akan meledak kapan saja dan menimbulkan konflik sosial yang sulit untuk diatasi. Maka kita harus memulai dari sekarang untuk menjaga pluralisme cara yang paling mudah adalah dengan dimulai dari diri kita sendiri kepada sesama kita yang berbeda dengan kita. Dengan melewati tantangan-tantangan yang ada dalam keberagaman maka kita akan dapat merangkul orang lain tanpa kita harus melihat latar belakang orang tersebut tetapi kita dapat merangkulnya sebagai sesama manusia. Karena sebenarnya ajaran agama adalah sebuah pemberian orang tua kita sama seperti nama yang kita miliki serta kebudayaan yang kita miliki. Karena kita tidak dapat memilih dikeluarga beragama apa kita dilahirkan. Karena kita secara langsung dan tidak langsung akan mengikuti yang orang tua kita ajarkan. Karena orang tua akan mengajarkan nilai-nilai kebaikan kepada anaknya. Dan nilai-nilai kebaikan tersebut salah satunya bersumber dari agama. Jadi secara tidak langsung maka agama yang kita miliki ketika kecil adalah agama yang sama dimiliki oleh keluarga. Sehingga kita tidak dapat menyalahkan kondisi orang lain yang berbeda dengan kita karena berbeda bukan berarti kita tidak bisa menyatu. Sehingga kita harus bersolidaritas kepada orang lain sebagai sesama manusia yang memiliki kebutuhan akan Tuhan yang sama. Dan juga pluralisme yang kita miliki adalah pemberian Tuhan. Tuhan menciptkan manusia dengan berbagai macam suku, ras, budaya dan agama yang berbeda satu sama lain. Dan pasti di antara perbedaan tersebut memiliki sebuah makna tersendiri karena dengan perbedaan maka kita akan semakin mengetahui mengenai orang lain. Dan mendapatkan manfaat-manfaat yang ada dari keberagaman itu sendiri. Karena keberagaman juga memiliki sebuah hal positif. Sehingga seyogyanya kita sebagai sesama manusia harus tetap menjaga pluralisme yang ada dengan cara meningkatkan relasi lintas budaya dan keberagaman



Penutup


Sebenarnya pluralisme berasal dari dua kata yaitu “plural” yang berarti beragam dan “isme”  yang berartipaham, sehingga pluralisme berarti beragam pemahaman, atau bermacam-macam paham. Sehingga di dalam negara pluralisme yaitu Indonesia terdapat berbagai macam paham salah satunya adalah paham mengenai agama. Seperti semboyan Indonesia yaitu bhineka tunggal ika yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu, maka Indonesia harus menjujung tinggi budaya pluralisme tersebut. Karena di Indonesia terdapat 6 agama yaitu Islam, hindu, budha, katholik, kristen, konghucu. Semua agama tersebut harus dirangkul menjadi satu agar tidak timbul konflik sosial yang terjadi antar pemeluk agama tersebut. Karena banyak sekali hal-hal yang menimbulkan konflik antar umat beragama yang dapat menyebabkan rusaknya pluralisme di Indonesia diantaranya Perbedaan doktrin dan sikap mental, Perbedaan suku dan ras pemeluk agama, Perbedaan tingkat kebudayaan, Masalah mayoritas dan minoritas golongan agama. Selain keempat faktor itu juga banyak faktor lainya yang berperan menimbulkan konflik sosial antar umat beragama. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengatasi konflik sosial. Tetapi tidak bisa disangkal bahwa dalam prakteknya dialog antar umat beragama ini sering tidak efektif dan cenderung untuk dia di tempat karena beberapa penyebab yaitu elitis, tak militan, jalu eceran, infrastruktur, prasangka, ketidak adilan, dialog internal. Hal-hal inilah yang menjadikan dialog antar umat beragama tidak berjalan dengan baik seperti pada tujuan awalnya. Sehingga pada akhirnya untuk menjaga pluralisme di Indonesia kita harus memulainya pada diri sendiri dan dimulai dari lingkungan kita sendiri dengan cara menghilangkan perasaan prasangka, etnosentrime dan stereotype kepada orang yang berbeda agama dengan kita.



Daftar Pustaka

 

D. Hendropuspito, O. C. Sosiologi Agama. Yogyakarta: Kanisius, 1990.
Madjid, Nurcholish. Pluralisme Agama. Jakarta: Kompas, 2001.






Previous
Next Post »

2 comments

Click here for comments
Thanks for your comment